Davit Yang Patah
(Persis seperti posisi Davit yang sedang menikmati rasa galau di kamarku)
He He He… Aaaaaaaku bebaaaass!
Hei Kamu! Aku tidak ingin membalas chat kamu hari ini! Besok! Dan seterusnya. Hallo Kamu yang di sana! Kamu yang selalu menanyakan kabarku setiap hari!, yang selalu merindukanku, yang selalu menangisiku. Hahaha... Rasanya aku ingin tertawa saja seharian.
Beberapa dari mereka kadang menjadi pujangga dan kritikus dadakan di social media,
kalimatnya begini;
“Aku tahu aku yang
salah, selalu membuatmu marah, maafkan aku. Air mata ku tak mampu lagi
dibendung, aku ingin jari mu yang menghapusnya langsung”
(Facebook)
“Laki-laki itu sama saja. Jahat!. Kau pikir
siapa dirimu bangsat. Meminta semaunya, menghilang semaunya, kau pikir hanya
kau lelaki di dunia ini?, jika demikian, sia-sia dirimu. Kenapa tidak
menghilang dari bumi saja sekalian. Aku harap kau binasa. Sialan”
(Twitter)
Rasa Bebas dari posesifnya sesorang perempuan hanya bertahan lima minggu saja. Setelahnya, aku merasa menjadi manusia paling menyedihkan dalam kesendirian. Hidupku tidak berwarna, hanya hitam dan putih saja.
Bingung dan hampa merasuki jiwa. Sesuatu dari diriku ada yang hilang dan ada yang tidak lengkap, seperti hal sebuah karikatur yang kehilangan 1 pazel agar dia terlihat sempurna. Aku bertanya pada hatiku.. "Ada apa ini??"
Setiap malam minggu, teman-temanku satu persatu menghilang, ternyata mereka sekarang lebih memilih untuk telponan dengan pasangan mereka masing-masing dari pada bermain game di tongkrongan.
Aku benar-benar cemburu dengan mereka, mereka selalu membuat Snapgram, nonton bioskop dan makan berdua. Ahh sial, Aku mulai jenuh dengan kesendirian dan mulai membaca ulang beberapa pesan mantanku yang tidakku balas. Tegah sekali dirimu, pikirku. Mungkin saja dia sedang menunggu.
Ego hati mulai meredah, pikiran manusiawi kembali hadir dan
rasa rapuh dalam diri menghampiri. Beberapa minggu ini aku uring-uringan, menghabiskan
waktu sendiri di dalam kamar, hanya membaca buku, mengerjakan tugas dan bermain
game, lalu tidur. Kemalasan menguasai diri.
Tiba-tiba ibu masuk dalam kamar, melihat aku sedang lesu membisu. Ibuku bartanya, apa ada masalah dengan kampus, pacar atau teman. Aku jawab dengan jawaban yang paling baik. Di sini aku harus sedikit berbohong, agar ibu tidak khawatir.
Setelah mendengarkan jawabanku, Lalu Ibu keluar dari kamar dengan membawa gelas kopi yang ada
di atas meja computer.
Kepalaku terasa berputar hingga ingin muntah, kenangan
kembali hadir dalam ingatan. Rasa menyesal meninggalkan seseorang yang pernah ku cintai. Jika dibaratkan, sama seperti
halnya kamu besok ingin ujian lisan, tapi malamnya lupa belajar. Bukannya
belajar, tapi mala ketiduran. Ah! Menyesal lah kau!
Itulah aku, yang
selalu merasa menyesal diakhir keputusan, seharusnya akan lebih baik jika aku
tetap teguh hati. Kelabilan ini, mungkin sudah
bersarang di tubuhku sejak dari bayi. Sialan aku.
***
Davit akhir-akhir ini sering ke rumahku, dia galau karena dia baru saja putus dari pacarnya. Hari ini dia mau kerumah katanya. Sekarang sudah jam sebelas siang.
“Tiittt... Titttt... Tittt” Suara
klakson motor.
“Homm.. Cerahak Hom-hommmm!”
Davit memanggil dari luar pagar.
Mukanya merah, menghitam dalam helm yang dia kenakan, Davit terlihat berkeringat. Bengkulu makin hari makin terik, maklum rumahku dan pantai hanya berjarak kurang dari 100 meter saja.
(Aku membuka pintu teralis yang rapat)
“Ha?” Tanyaku.
“Bukak pintu hak, panas banget ini” Teriak Davit.
“Oh.. Wokeh!” Aku membuka pintu pagar dan langsung
menyuruhnya masuk ke kamar.
Kamarku tidak terlalu besar, ukurannya 3,5 meter (P) x 3 meter
(L), dan ini sangat panas, meski sudah ku nyalahkan kipas angin.
Sekarang Davit sering uring-uringan,
merasa paling pahit hidupnya. Bagaimana tidak, dia sudah menjalin hubungan
dengan pacarnya selama lima tahun. Jarak dan jenuhlah menjadi kemungkinan
terbesar dalam hubungannya.
Davit duduk dilantai, aku diatas kasur, melihatnya sungguh
buat ku tak tegah.
Davit
melipat kakinya ke atas dada, disimpuhkannyalah kepalanya diantara lutut serta
tangan yang menggranyangi rambut hingga kusut. Dia tak bersuara, tapi gerak
tubuhnya menggambarkan dia sedang berteriak sangat keras dalam ruangan
dihatinya. Sementara aku sekarang, ingin tertawa keras di depan mukanya. Tapi
sungguh tak tegah
menertawakan teman yang sedang berputus asah. Yah!, pada akhirnya kita berdua adalah kayu lapuk yang berada di dalam ruangan panas.
“Hilangkanlah rasa itu Vit, kau sekarang sedang berada
dimana, kau harus belajar mengikhlaskan.. Ayok move!”Aku berusaha membuka
percakapan.
“Apa salah ku yom?, aku tidak tahu kenapa dia menyuruhku
untuk pergi, tanpa ada angin dan hujan. Dia ucapkan kalimat perih, sepert petir
yang memporak-porandakan batu karang” Davit ngeluh.
Aku hanya diam dan sesekali tertawa melihat davit. “Dasar
lemah”. Pekikku dalam batin.
Setelah berdiam cukup lama, Davit membuka jaketnya, dia
kembali duduk di lantai dan punggungnya direbahkannya di dinding Kasur.
Tiba-tiba dia bertanya kepadaku.
“Mon, aku mimpi mantanku malam tadi, apa dia sedang rindu
padaku yah?” Davit menatapku serius.
“Celanamu basah tidak?” Ucapku.
“Tidak Mon!” Davit makin memfokuskan pikirannya.
“Oh, ku kira kau sedang mimpi dewasa!” Aku memeluk bantal
gulingku.
“Ahh sial, BangkeKKKkk!” Cetus Davit.
“Serius ini Mon!.. aku mimpi dia lagi.. Capek tahu!” Davit bingung.
“Sudah jangan dipikirkan, pasti sebelum tidur, kau masih
memikirkan dia kan?”
“Hmm.. sepertinya sih iya! Hmmm.. BAGAIMANA INI!!!” Davit
mengamuk, mengacak-acak rambutnya, sebentar lagi dia akan menjadi Tiranosaurus.
Beberapa lama setelah percakapan, davit meminta Hpku untuk nngestalking akun sosmed mantannya.
Jujur saja,
jika kita selalu memikirkan dan mengingat mantan, pasti hidup akan jadi semakin
suram, dan sebenarnya perihal tentang rindu adalah tantang kita yang masih
mengingat moment yang telah dibuat bersama dengan orang yang kita cintai saat
itu. Hanya saja kita sering salah dalam hal menduganya.
Bukan rindu orangnya, tapi momentnya. Apa kamu mengerti
sampai disini?
Jadi begini, Semisal; Kamu sekarang sedang rindu dan kamu teringat
semua tentang hal yang kamu lakukan berdua dengannya, saat sedang makan dengannya, jalan,
nonton dan sedang marahan. Bahwa sebenarnya kamu sedang merindukan semua yang kamu lakukan berdua, bukan merindukan orangnya. Paham bukan sampai sini!
Aku sudah
jelaskan ke Davit seperti itu, tapi tampaknya dia tidak mengerti, dia masih
asik dengan rasa patah dalam hatinya. Belum lagi dia sekarang sedang berjuang
dengan skripsinya.
Aku merasa di usia rentang 20-30 tahun ini kita banyak di uji tentang kehidupan, baik dalam kisah cinta, karir dan ideologi hidup,
mungkin tuhan memberikan ujian ini, agar kita mencoba untuk terus belajar
mendewasakan diri. Sehingga kita memiliki banyak pengalaman yang nantinya
berguna untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan dimasa
depan.
Hari
menjelang sore, Davit pamit pulang. Banyak beban pikiran yang belum
dikeluarkannya hari ini. Mukanya kusut dan berkerut, terus dibawanya di atas motor.
*****
Selepas magrib, grub
Whatsapp “Sisa puing-puing” berbunyi. Yang ada di dalam grub ini adalah Dara,
Ikbal, Davit, Yuhul dan aku. Grub Wa ini merupakan salah satu cara kami untuk
berkomunikasi satu dengan lainnya, pada saat kami sedang tidak bisa bertemu,
atau sibuk dengan rutinitas masing-masing.
“Kopi kopi kopi….”
Itu adalah sebuah sandi untuk berkumpul dan ngopi di angkringan. Rutinias ini hampir dilakukan setiap malam, materi obrolan sering kali diulang-ulang, tapi tetap saja bisa tertawa.
Angkringan Sewu adalah tempat terbaik untuk berkumpul sekaligus tempat yang paling aman buatku untuk Ngerokok. Aku merasa aman dan nyaman untuk ngerokok di angkringan ini.
Meski aku sudah lulus kuliah dan terbilang sudah masuk usia dewasa, tapi masih saja takut ketahuan merokok dengan ibu dan ayahku. Ah sial. Sehingga Angkringan ini tempat kedua teramanku buat ngerokok setelah Yuhul Home’s. Jam di tangan ku menunjukan angka 19.20 Wib, Ikbal aku jemput karena rumahnya satu arah denganku, Aku dan Ikbal sudah sampai dan langsung memesan dua gelas kopi hitam, Davit dan Yuhul masih belum datang. Aku membuka kotak rokok dan menyalahkannya, Ikbal tidak merokok dia hanya bisa melihat dan menjadi korban Rokok pasifku.
Ikbal mulai membuka percakapan, dia mengeluh dengan kegiatan setelah lulus kuliah. Baginya menganggur itu sangat diharamkan, dia ingin bekerja yang sesuai dengan keilmuannya, Ikbal Bergelar S. Ak (Sarjana Akuntansi), tapi Ikbal masih berusaha melamar pekerjaan, Ikbal memang sedikit memilih dalam hal ini.
Ikbal lulus pada bulan Desember 2018, sudah empat bulan berlalu. Sementara aku sudah delapan bulan lulus dan masih berjuang mencari apa yang harus dikerjakan. Ikbal bertanya padaku apa yang mesti diperbuat untuk mendapatkan uang. Maklum saja di daerahku Pegawai Negeri Sipil memang menjadi pekerjaan yang diidolakan. “Belum PNS, Belum Sukses”. Orang-orang tua di daerahku menginginkan anaknya menjadi Pegawai. Sementara aku sangat bertolak belakang dengan pemikiran itu, maksudku masih banyak pekerjaan yang menghasilkan uang lebih banyak dari seorang pegawai negeri sipil, berbisnis, kreator, youtuber, penulis, seniman, fotografer dan banyak lainnya. Pekerjaan diera milenial ini sangat banyak, namun mesti ditekuni dan diseriusin agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspetasi awal yang dibangun.
Aku hanya menjawab pertanyaan Ikbal dengan kalimat “Mari kita jual beli wanita online saja, untuk para pejabat yang kelebihan uang, yang diambil dari uang rakyat, dan dikembalikan lagi ke rakyat yang membutuhkan dalam bentuk simpanan bergerak dan lunak”. Ikbal hanya tertawa dan bilang Asuuuu Koeee..
Setelah beberapa menit, percakapanku dengan Ikbal ini terhenti oleh kedatangan Yuhul dan Davit dengan motor kumbang Flu (Satria Fu). Dara sepertinya tidak datang, sebab rumahnya bersebelahan dengan Padang Pasir Zahara.. Jauhhhhh!
Davit masih tetap saja murung, dia berada di sebalah kiriku,
aku bertanya kepadanya bagaimana perasaan hatinya malam ini. Namun dia hanya
tertawa menutupi rasa gundanya. Yuhul dan Ikbal tertawa. Dasar bangsat mereka
berdua!
“Mon minjam hp mon, hehehe” Davit tertawa mengesalkan.
“Nah, liat lah sepuasmu” Kataku.
*Setelah 10 menit*
“Sudah..” Davit mengembalikan hpku.
“Sudahlah mon, kau tunggu saja untuk beberapa bulan, pasti
akan kembali” Kataku.
“Mana mungkin mon, jika cewek yang mengatakan putus,
sudah terlalu gengsi untuk dia mengucapkan kata balikan. Aku baca setiap statusnya, dia sedang
berbahagia sekarang. Tidak memikirkan perasaanku ini” Davit menunjuk dadanya.
“Betul tuh, tunggu saja kalo emang jodoh pasti akan kembali” Yuhul
angkat bicara.
“Sudah mon, lupakan. Masih banyak ledis Bengkulu yang MONTOKs
bet dahh, serius” Ikbal berkomentar.
“Begini saja, kalo saranku ini tidak manjur, berarti tuhan
dan semesta memang sedang murka padamu. Jadi begini, kamu tunggu saja sampai tiga bulan.
Waktu tiga bulan memang paling pas untuk menunggu. Namun setelah bulan ke
empat, kau harus benar-benar melupakannya, jika ia memang tidak kembali” Aku
dengan muka serius.
“Terus?, jika dibulan keempat dia kembali gimana?” Davit
berimajinasi.
“Jika dia Kembali, kau harus berbesar hati untuk menerima dia lagi!, tapi aku kembalikan lagi ke pilihannya
kepadamu, balik atau tinggalkan”
“Jadi, kau pilih apa?” Tanya Yuhul.
“Yah, Balikan lah!” Davit bersemangat.
“Hmmm, begitu yah.. kita lihat saja nanti!, Kau boleh berkata
seperti ini sekarang, Seseorang yang mengambil keputusan untuk putus, biasanya
akan merasakan penyesalan dalam waktu tiga bulan setelah ia mengambil keputusan.
Seseorang yang menerima keputusan tersebut, akan merasa kekecewaan dan pahitnya
cinta. Setelah itu, keadaan mulai berbalik. Dia yang mengambil keputusan untuk
putus, akan kembali
mencari hati yang dia tinggalkan. Sementara yang
ditinggalkan, sudah berlahan sembuh, dan berusaha untuk membuka hati dengan
yang baru, dia tidak memperduli lagi tentang perasaan yang dulu pernah ada saat
bersama. Oh, mustahil itu baginya.” Ucapku.
Davit
menarik dalam nafasnya, dan mulai mengangguk-anggukkan kepala. Yuhul menghisap
puntung rokok dijarinya, sementara Ikbal menghirup kopi sambil
mengangguk-angguk mengikuti Davit. Dan aku, menghidupkan sepuntung rokok yang
baru lagi. Setelah itu suasana menjadi hening, hanya suara motor dan obrolan di
kursi lain terdengar.
“Ngomong apo awak
tadi?” Ucapku.
“Ntahlah, cak padek tuna”. Ucap Ikbal.
*Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi mereka yang
kesal*
Bengkulu-Angkringan Sewu, 07 Mei 2019
.jpg)

Komentar
Posting Komentar