Davit Yang Patah

(Persis seperti posisi Davit yang sedang menikmati rasa galau di kamarku)

Aku ingin kasih tahu kamu apa yang dimaksud teman menurutku. Adalah sebuah tempat, yang ketika aku sedang merasakan kesepian, aku langsung mencarinya. 

Adalah sebuah tempat yang paling nyaman untuk bercerita semua hal yang sudah aku lalui hari ini, kemaren, juga kemarennya lagi. Aku akan selalu mencari tempat itu dan menuangkan ekspresi diriku disana.
aku merasa, jika aku berada di dalamnya semua rasa galauku hilang dan mood terbaikku kembali hadir. 

Mungkin aku sedikit berbeda dari kalian. Dulu, ketika aku baru putus, aku merasakan sebuah kebahagian yang benar-benar bahagia.
Seperti sebuah waktu dapatku atur sesuka hati, dan juga berbagai hal dapat aku lakukan seharian. 
Aku dapat berkumpul dengan teman-temanku, tidak ada yang melarangku merokok, pulang larut malam, bisa chatingan dengan banyak perempuan, jalan bareng wiwit, makan dengan Ayrin, dan bisa dekat lagi dengan Tari di kampus.

He He He… Aaaaaaaku bebaaaass!

Hei Kamu! Aku tidak ingin membalas chat kamu hari ini! Besok! Dan seterusnya. Hallo Kamu yang di sana! Kamu yang selalu menanyakan kabarku setiap hari!, yang selalu merindukanku, yang selalu menangisiku. Hahaha... Rasanya aku ingin tertawa saja seharian. 

Beberapa dari mereka kadang menjadi pujangga dan kritikus dadakan di social media, kalimatnya begini;

“Aku tahu aku yang salah, selalu membuatmu marah, maafkan aku. Air mata ku tak mampu lagi dibendung, aku ingin jari mu yang menghapusnya langsung”

(Facebook)


 
“Laki-laki itu sama saja. Jahat!. Kau pikir siapa dirimu bangsat. Meminta semaunya, menghilang semaunya, kau pikir hanya kau lelaki di dunia ini?, jika demikian, sia-sia dirimu. Kenapa tidak menghilang dari bumi saja sekalian. Aku harap kau binasa. Sialan”

(Twitter)

Rasa Bebas dari posesifnya sesorang perempuan hanya bertahan lima minggu saja. Setelahnya, aku merasa menjadi manusia paling menyedihkan dalam kesendirian. Hidupku tidak berwarna, hanya hitam dan putih saja.

Bingung dan hampa merasuki jiwa. Sesuatu dari diriku ada yang hilang dan ada yang tidak lengkap, seperti hal sebuah karikatur yang kehilangan 1 pazel agar dia terlihat sempurna. Aku bertanya pada hatiku.. "Ada apa ini??"

Setiap malam minggu, teman-temanku satu persatu menghilang, ternyata mereka sekarang lebih memilih untuk telponan dengan pasangan mereka masing-masing dari pada bermain game di tongkrongan. 

Aku benar-benar cemburu dengan mereka, mereka selalu membuat Snapgram, nonton bioskop dan makan berdua. Ahh sial, Aku mulai jenuh dengan kesendirian dan mulai membaca ulang beberapa pesan  mantanku yang tidakku balas. Tegah sekali dirimu, pikirku. Mungkin saja dia sedang menunggu.

Ego hati mulai meredah, pikiran manusiawi kembali hadir dan rasa rapuh dalam diri menghampiri. Beberapa minggu ini aku uring-uringan, menghabiskan waktu sendiri di dalam kamar, hanya membaca buku, mengerjakan tugas dan bermain game, lalu tidur. Kemalasan menguasai diri.

Tiba-tiba ibu masuk dalam kamar, melihat aku sedang lesu membisu. Ibuku bartanya, apa ada masalah dengan kampus, pacar atau teman. Aku jawab dengan jawaban yang paling baik. Di sini aku harus sedikit berbohong, agar ibu tidak khawatir.

Setelah mendengarkan jawabanku, Lalu Ibu keluar dari kamar dengan membawa gelas kopi yang ada di atas meja computer.

Kepalaku terasa berputar hingga ingin muntah, kenangan kembali hadir dalam ingatan. Rasa menyesal meninggalkan seseorang yang pernah ku cintai. Jika dibaratkan, sama seperti halnya kamu besok ingin ujian lisan, tapi malamnya lupa belajar. Bukannya belajar, tapi mala ketiduran. Ah! Menyesal lah kau!

            Itulah aku, yang selalu merasa menyesal diakhir keputusan, seharusnya akan lebih baik jika aku tetap teguh hati. Kelabilan ini, mungkin sudah bersarang di tubuhku sejak dari bayi. Sialan aku.

***

Davit akhir-akhir ini sering ke rumahku, dia galau karena dia baru saja putus dari pacarnya. Hari ini dia mau kerumah katanya. Sekarang sudah jam sebelas siang.

“Tiittt... Titttt... Tittt” Suara klakson motor.

“Homm.. Cerahak Hom-hommmm!” Davit memanggil dari luar pagar.

Mukanya merah, menghitam dalam helm yang dia kenakan, Davit terlihat berkeringat. Bengkulu makin hari makin terik, maklum rumahku dan pantai hanya berjarak kurang dari 100 meter saja.

(Aku membuka pintu teralis yang rapat)

“Ha?” Tanyaku.

“Bukak pintu hak, panas banget ini” Teriak Davit.

“Oh.. Wokeh!” Aku membuka pintu pagar dan langsung menyuruhnya masuk ke kamar.

Kamarku tidak terlalu besar, ukurannya 3,5 meter (P) x 3 meter (L), dan ini sangat panas, meski sudah ku nyalahkan kipas angin.

Sekarang Davit sering uring-uringan, merasa paling pahit hidupnya. Bagaimana tidak, dia sudah menjalin hubungan dengan pacarnya selama lima tahun. Jarak dan jenuhlah menjadi kemungkinan terbesar dalam hubungannya.

Davit duduk dilantai, aku diatas kasur, melihatnya sungguh buat ku tak tegah.

Davit melipat kakinya ke atas dada, disimpuhkannyalah kepalanya diantara lutut serta tangan yang menggranyangi rambut hingga kusut. Dia tak bersuara, tapi gerak tubuhnya menggambarkan dia sedang berteriak sangat keras dalam ruangan dihatinya. Sementara aku sekarang, ingin tertawa keras di depan mukanya. Tapi sungguh tak tegah menertawakan teman yang sedang berputus asah. Yah!, pada akhirnya kita berdua adalah kayu lapuk yang berada di dalam ruangan panas. 

“Hilangkanlah rasa itu Vit, kau sekarang sedang berada dimana, kau harus belajar mengikhlaskan.. Ayok move!”Aku berusaha membuka percakapan.

“Apa salah ku yom?, aku tidak tahu kenapa dia menyuruhku untuk pergi, tanpa ada angin dan hujan. Dia ucapkan kalimat perih, sepert petir yang memporak-porandakan batu karang” Davit ngeluh.

Aku hanya diam dan sesekali tertawa melihat davit. “Dasar lemah”. Pekikku dalam batin.

Setelah berdiam cukup lama, Davit membuka jaketnya, dia kembali duduk di lantai dan punggungnya direbahkannya di dinding Kasur. Tiba-tiba dia bertanya kepadaku.

“Mon, aku mimpi mantanku malam tadi, apa dia sedang rindu padaku yah?” Davit menatapku serius.

“Celanamu basah tidak?” Ucapku.

“Tidak Mon!” Davit makin memfokuskan pikirannya.

“Oh, ku kira kau sedang mimpi dewasa!” Aku memeluk bantal gulingku.

“Ahh sial, BangkeKKKkk!” Cetus Davit.

“Serius ini Mon!.. aku mimpi dia lagi.. Capek tahu!” Davit bingung.

“Sudah jangan dipikirkan, pasti sebelum tidur, kau masih memikirkan dia kan?”

“Hmm.. sepertinya sih iya! Hmmm.. BAGAIMANA INI!!!” Davit mengamuk, mengacak-acak rambutnya, sebentar lagi dia akan menjadi Tiranosaurus.

Beberapa lama setelah percakapan, davit meminta Hpku untuk nngestalking akun sosmed mantannya.

Jujur saja, jika kita selalu memikirkan dan mengingat mantan, pasti hidup akan jadi semakin suram, dan sebenarnya perihal tentang rindu adalah tantang kita yang masih mengingat moment yang telah dibuat bersama dengan orang yang kita cintai saat itu. Hanya saja kita sering salah dalam hal menduganya.

Bukan rindu orangnya, tapi momentnya. Apa kamu mengerti sampai disini?

Jadi begini, Semisal; Kamu sekarang sedang rindu dan kamu teringat semua tentang hal yang kamu lakukan berdua dengannya, saat sedang makan dengannya, jalan, nonton dan sedang marahan. Bahwa sebenarnya kamu sedang merindukan semua yang kamu lakukan berdua, bukan merindukan orangnya. Paham bukan sampai sini!

 Aku sudah jelaskan ke Davit seperti itu, tapi tampaknya dia tidak mengerti, dia masih asik dengan rasa patah dalam hatinya. Belum lagi dia sekarang sedang berjuang dengan skripsinya.

Aku merasa di usia rentang 20-30 tahun ini kita banyak di uji tentang kehidupan, baik dalam kisah cinta, karir dan ideologi hidup, mungkin tuhan memberikan ujian ini, agar kita mencoba untuk terus belajar mendewasakan diri. Sehingga kita memiliki banyak pengalaman yang nantinya berguna untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam kehidupan dimasa depan.

Hari menjelang sore, Davit pamit pulang. Banyak beban pikiran yang belum dikeluarkannya hari ini. Mukanya kusut dan berkerut, terus dibawanya di atas motor.

*****

Selepas magrib, grub Whatsapp “Sisa puing-puing” berbunyi. Yang ada di dalam grub ini adalah Dara, Ikbal, Davit, Yuhul dan aku. Grub Wa ini merupakan salah satu cara kami untuk berkomunikasi satu dengan lainnya, pada saat kami sedang tidak bisa bertemu, atau sibuk dengan rutinitas masing-masing.

 “Kopi kopi kopi….”

Itu adalah sebuah sandi untuk berkumpul dan ngopi di angkringan. Rutinias ini hampir dilakukan setiap malam, materi obrolan sering kali diulang-ulang, tapi tetap saja bisa tertawa.

  Angkringan Sewu adalah tempat terbaik untuk berkumpul sekaligus tempat yang paling aman buatku untuk Ngerokok. Aku merasa aman dan nyaman untuk ngerokok di angkringan ini.

Meski aku sudah lulus kuliah dan terbilang sudah masuk usia dewasa, tapi masih saja takut ketahuan merokok dengan ibu dan ayahku. Ah sial. Sehingga Angkringan ini tempat kedua teramanku buat ngerokok setelah Yuhul Home’s. Jam di tangan ku menunjukan angka 19.20 Wib, Ikbal aku jemput karena rumahnya satu arah denganku, Aku dan Ikbal sudah sampai dan langsung memesan dua gelas kopi hitam, Davit dan Yuhul masih belum datang. Aku membuka kotak rokok dan menyalahkannya, Ikbal tidak merokok dia hanya bisa melihat dan menjadi korban Rokok pasifku.

Ikbal mulai membuka percakapan, dia mengeluh dengan kegiatan setelah lulus kuliah. Baginya menganggur itu sangat diharamkan, dia ingin bekerja yang sesuai dengan keilmuannya, Ikbal Bergelar S. Ak (Sarjana Akuntansi), tapi Ikbal masih berusaha melamar pekerjaan, Ikbal memang sedikit memilih dalam hal ini.

Ikbal lulus pada bulan Desember 2018, sudah empat bulan berlalu. Sementara aku sudah delapan bulan lulus dan masih berjuang mencari apa yang harus dikerjakan. Ikbal bertanya padaku apa yang mesti diperbuat untuk mendapatkan uang. Maklum saja di daerahku Pegawai Negeri Sipil memang menjadi pekerjaan yang diidolakan. “Belum PNS, Belum Sukses”. Orang-orang tua di daerahku menginginkan anaknya menjadi Pegawai. Sementara aku sangat bertolak belakang dengan pemikiran itu, maksudku masih banyak pekerjaan yang menghasilkan uang lebih banyak dari seorang pegawai negeri sipil, berbisnis, kreator, youtuber, penulis, seniman, fotografer dan banyak lainnya. Pekerjaan diera milenial ini sangat banyak, namun mesti ditekuni dan diseriusin agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan ekspetasi awal yang dibangun.

Aku hanya menjawab pertanyaan Ikbal dengan kalimat “Mari kita jual beli wanita online saja, untuk para pejabat yang kelebihan uang, yang diambil dari uang rakyat, dan dikembalikan lagi ke rakyat yang membutuhkan dalam bentuk simpanan bergerak dan lunak”. Ikbal hanya tertawa dan bilang  Asuuuu Koeee..

Setelah beberapa menit, percakapanku dengan Ikbal ini terhenti oleh kedatangan Yuhul dan Davit dengan motor kumbang Flu (Satria Fu). Dara sepertinya tidak datang, sebab rumahnya bersebelahan dengan Padang Pasir Zahara.. Jauhhhhh!

Davit masih tetap saja murung, dia berada di sebalah kiriku, aku bertanya kepadanya bagaimana perasaan hatinya malam ini. Namun dia hanya tertawa menutupi rasa gundanya. Yuhul dan Ikbal tertawa. Dasar bangsat mereka berdua!

“Mon minjam hp mon, hehehe” Davit tertawa mengesalkan.

“Nah, liat lah sepuasmu” Kataku.

*Setelah 10 menit*

“Sudah..” Davit mengembalikan hpku.

“Sudahlah mon, kau tunggu saja untuk beberapa bulan, pasti akan kembali” Kataku.

“Mana mungkin mon, jika cewek yang mengatakan putus, sudah terlalu gengsi untuk dia mengucapkan kata balikan. Aku baca setiap statusnya, dia sedang berbahagia sekarang. Tidak memikirkan perasaanku ini” Davit menunjuk dadanya.

“Betul tuh, tunggu saja kalo emang jodoh pasti akan kembali” Yuhul angkat bicara.

“Sudah mon, lupakan. Masih banyak ledis Bengkulu yang MONTOKs bet dahh, serius” Ikbal berkomentar.

“Begini saja, kalo saranku ini tidak manjur, berarti tuhan dan semesta memang sedang murka padamu. Jadi begini, kamu tunggu saja sampai tiga bulan. Waktu tiga bulan memang paling pas untuk menunggu. Namun setelah bulan ke empat, kau harus benar-benar melupakannya, jika ia memang tidak kembali” Aku dengan muka serius.

“Terus?, jika dibulan keempat dia kembali gimana?” Davit berimajinasi.

“Jika dia Kembali, kau harus berbesar hati untuk menerima dia lagi!, tapi aku kembalikan lagi ke pilihannya kepadamu, balik atau tinggalkan”

“Jadi, kau pilih apa?” Tanya Yuhul.

“Yah, Balikan lah!” Davit bersemangat.

“Hmmm, begitu yah.. kita lihat saja nanti!, Kau boleh berkata seperti ini sekarang, Seseorang yang mengambil keputusan untuk putus, biasanya akan merasakan penyesalan dalam waktu tiga bulan setelah ia mengambil keputusan. Seseorang yang menerima keputusan tersebut, akan merasa kekecewaan dan pahitnya cinta. Setelah itu, keadaan mulai berbalik. Dia yang mengambil keputusan untuk putus, akan kembali mencari hati yang dia tinggalkan. Sementara yang ditinggalkan, sudah berlahan sembuh, dan berusaha untuk membuka hati dengan yang baru, dia tidak memperduli lagi tentang perasaan yang dulu pernah ada saat bersama. Oh, mustahil itu baginya.” Ucapku.

 Davit menarik dalam nafasnya, dan mulai mengangguk-anggukkan kepala. Yuhul menghisap puntung rokok dijarinya, sementara Ikbal menghirup kopi sambil mengangguk-angguk mengikuti Davit. Dan aku, menghidupkan sepuntung rokok yang baru lagi. Setelah itu suasana menjadi hening, hanya suara motor dan obrolan di kursi lain terdengar.

 Ngomong apo awak tadi?” Ucapku.

“Ntahlah, cak padek tuna”. Ucap Ikbal.

*Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi mereka yang kesal*

                                                                                   

 

Bengkulu-Angkringan Sewu, 07 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

aku ini siapa ?

Diantara Kata, Kau dan Aku

Apa sih yang biasa pria lakukan jika ia sedang jatuh cinta ?