Bakso Kuah Pakde

 





Seumur-umur aku hanya satu kali suka ke kakak tingkat (kating) di sekolahku, waktu itu aku berada di kelas satu Sma. Namanya Shasa Kurnia sari, badannya tidak terlalu tinggi juga pendek, kulitnya putih, rambutnya coklat kepirang-pirangan, kurang lebih tingginya sepundak lebih sedikit dariku yah 172 cm, pipinya cabi, dan ada tanda lahir di sebelah kirinya.

Shasa masuk kelas yang jurusannya IPA, sementara aku, belum bisa memilih jurusan karena masih kelas sepuluh. 

Shasa anaknya kalem banget. Kita Pertama kali bertemu, ketika saling papasan di Lorong depan ruang Guru. Waktu itu aku sedang mencari toilet. perutku sakit, karena habis makan bakso kuah pakde yang pedas.

Pakde berjualan di bawah batang sawit dekat leb computer dan parkiran motor. “Ah ini karena aku kebanyakan ngambil sambal ijonya pakde nih!” pikirku.

Aku dengan sebisaku menahan perut yang mules dan berlari ke arah wc guru. Kebetulan lebih dekat ke wc guru ketimbang wc umum siswa di seberang lapangan upacara.

“Assalamualaikum, permisi.. gedorrrrr-gedorrrrrr-gedorrrr!!”, Pintu wc terkunci, sepertinya ada orang di dalamnya. Aku berdiri di pintu berharap cepat masuk.

Seorang perempuan membawa tumpukan buku tulis melintas dengan rambut yang tergerai, bau parfumnya yang wangi hingga mengalahkan aroma di wc yang pesing, tidak karuan.

Siapa perempuan ini?, aku dengan ekspresiku menahan perut yang sakit, karena melihat kecantikannya. Dia menatapku sebentar, sebelum menjawab panggilan temannya yang berteriak memanggil dari ujung Lorong

“Shaaa- Shaaasaaaaaa!”

“Iyaaaaa Kenapa!!!”

Jari-jari kakiku tertekuk di dalam sepatu karena sudah tidak mampu lagi menahan perut yang sedang berkontraksi. Ketika gagang pintu ku ayun ke bawah.. Pintu Wc ini terbuka! Ah.. Aku sudah tertipu ternyata, ku kira pintu ini terkunci!,

Aku langsung masuk. Dan Ketika di dalam wc, dengan perasaan yang legah dan penasaran. Maksudku legah, karena aku sudah di dalam wc untuk Poop dan Penasaran dengan perempuan yang bernama Shasa ini. Aku kepikiran seperti itu, saat ngeden. 

Dia begitu cantik dan juga  wangi!, sepertinya dia bukan kelas sepuluh, sebab tidak ada seangkatanku seperti perempuan yang lewat tadi.

Sehabis buang air besar, aku ingin mencari perempuan yang bernama shasa ini di seluruh kelas sepuluh untuk memastikan bahwa memang benar dia bukan anak seangkatanku.

Jin, bangsat (Maksudku, Ikbal Jin dan satria, biasa aku panggil Abang Satria dan biasa juga aku singkat Bangsat) "Woyyy sini dulu!” Aku memanggil mereka berdua yang sedang duduk di bawah pohon sambil makan bakso kuah.

“Uy.. Sini!” Mereka malah melambaikan tangan dan menyuruhku bergabung dengan mereka di sana.. Sialan! 

(Aku berjalan menujuh mereka)

“Aku melihat sesuatu yang indah tadi!”

“Ah serius? Mana ada kotoran itu yang indah” kata Jin.

“Ah, bukan itu maksudku..” Jawabku.

“Terus apa boy!” Tanya Bangsat.

“Tadi aku berpapasan dengan seorang perempuan, di Lorong wc guru, sepertinya dia bukan Angkatan kita, aku ingin memastikan saja, ayok temani aku mencarinya”

“Ah ada-ada pula yoma ini, kenapa emangnya?”

“Dia mengganggu ku”

“Kok bisa, kan baru kau lihat”

“Justru itu, aku heran”

“Heran kenapa pula yoms”. Bangsat nyaut.

“Kayaknya aku suka ke dia!”

“Lah, kan kau belum mengenalnya”

“Suka ke seseorang tidak harus saling mengenalnya bang! Cukup kau lihat pasti sudah suka! Serius!, ayohlah kita cari dulu belum masuk pelajaran selanjutnya”

“Kemana kita cari boy!”

“Kita cari ke setiap ruang dikelas sepuluh sebelum masuk kelas kita”

“Ada-ada saja kau ini yoms!” Timpal Jin.

Setelah kami mencari di seluru Gedung kelas sepuluh, kami tidak menemukan perempuan yang aku maksud. Dan benar pikirku, dia kakak tingkatku. Dia berarti kelas sebalas IPA atau tidak sebelas IPS.

Dena sekolah ku seperti ini jika digambarkan:

Ada 3 area yang perlu kamu ketahui

Area pertama dekat pintu masuk sekolah: Ada 3 Gedung utama, 1 bertingkat dan 2 tidak bertingkat.  Di area ini ada 2 kantin, 1 kantin bude dekat UKS dan 1 lagi bersebelah dengan rumah penjaga sekolah. Dua Gedung yang bertingkat untuk oleh anak kelas sepuluh, dan yang tidak bertingkat untuk anak kelas dua belas IPS.

Area kedua: Area perkantoran (Ruang Kepala sekolah, Ruang Guru, Administrasi, Masjid, Leb. Komputer, Leb Bahasa, Leb Kimia/Fisika, parkiran sekolah dan UKS). Ada dua lapangan luas didalamnya, yang satu untuk upacara sekolah, dan di sebalah kanan dari pintu masuk ada lapangan kuning berdebu untuk bermain bola.

Area Ketiga: Memiliki 4 Gedung, 2 kantin dan 2 lapangan. Yaitu 1 gedung untuk perpustakaan, 1 gedung untuk anak kelas dua belas IPA dan 2 gedung di untuk anak kelas sebelas IPA dan IPS.


Sehingga kami yang berbeda Area tidak saling mengenal meski satu sekolah, karena lingkungan yang begitu luas yang membatasi interaksi kami.

                                                ***

          Ke-esokan harinya, pada saat jam istirahat aku, Jin, Bangsat, kali ini di tambah Yuhul dan Burung (Ikhwan) menuju Bakso kuah pakde di dekat parkiran motor.

Belum lama bel istirahat berbunyi, Bakso Kuah Pakde sudah diserbu oleh anak-anak sekolahan ku yang mengantri ingin membeli.

“Duh Rameee woy!”.Burung ngeluh melihatnya.

“Sudah, tunggu saja nanti juga sepi”.Sambar Bangsat.

“Yah, Keburu masuk cuk”.Sahut Yuhul.

Dan Akhirnya kami tetap membeli Bakso kuah pakde, lalu masuk ke dalam kerumunan tersebut. Aku berdesakkan mengambil plastik dan mulai mengambil sendiri, kata pakde kalo mau cepat mesti begini, nanti uangnya dikasihkan ke pakde atau letakkan saja di laci. Pakde berjualan dengan motor legenda usang, beliau modif sisi kiri dan kanan bagian belakangnya seperti grobak.

Puluhan mungkin ratusan juta orang berdesak-desakan didekat motor tua pakde. Aku menunduk-nunduk dan merayap agar mendapatkan sayur sawi. Tanganku ku perintahakan untuk masuk ke dalam kerumunan orang yang berjubel ini. Hap..Happ..Happ! Dapat. Begitu juga dengan Jin, Bangsat, Yuhul, dan Burung. Alhamdulilah aku masih beruntung, masih bisa makan Bakso kuah pakde hari ini dengan selamat.

Sebungkus Bakso kuah sudahku bayar, aku beli lima ribu hari ini. Plastik punyaku penuh dan sulitku pegang karena licin sedikit berminyak dan panas. Aku, Jin dan yuhul berlari menuju teras Leb Komputer diikuti Bangsat. Burung masih sibuk meracik Baksonya di dalam kerumunan.

“Ah, dapat juga akhirnya”

“Kena gak boy?”

“Kena apa hul?”

“Ih, kena tetek loh Wkwkwk….”

(Kami tertawa sambil meniup bungkus plastik yang masih panas)

“Iyoo kena, tapi gak tahu punya siapa” Jawabku.

“Ah, kau ini yoms, lain kali incar dulu targetnya baru kau eksekusi!” Saran yang baik dari Jin.

“Wokeh, Siappp!”

               Di tengah percakapan masalah tetek, perempuan yang kemaren yang berpapasan di Lorong wc guru itu terlihat lagi olehku. “Bang, coba kau liat itu perempuan..” Aku menunjuk tiga perempuan yang baru saja lewat dari arah lapangan upacara.

“Ada apa?” Tanya Bangsat.

“Kau mengenalnya?” Tanyaku.

“Siapa?” Tanya Bangsat lagi.

“Iya itu, yang tadi aku tunjuk BANGSAT!” Mulutku penuh pentol dan emosi.

“Oh mereka…” sambil tertawa melihatku emosi.

“Iya.. tahu tidak”

“Itu mbk yang sedikit sipit dan berkerudung itu, pernah sebangku denganku saat kita Ujian Semesteran kemaren yom. Jeny namanya” (Di sekolahku, setiap ujian semester, kami selalu dipasangkan untuk duduk sebangku dengan kakak tingkat agar tidak saling mencontek sesame angkatan. Tapi itu hanya ekspetasi guruku, dan ini tidak berjalan dengan sepertinya. Karena kami saling membantu, ketika ujian matematika, Bahasa Indoensia dan Sejarah)

“Kelas berapa dia?”

“Sebelas IPA dua yoms!”

“Hanya mbak itu yang kau kenal?”

“Iya, sepertinya sih iyah .. Kenapa?”

“Yang kemaren itu loh, yang aku ceritakan”

“Ohh.. yang mana orangnya?”

(Jin, Yuhul, menyimak percakapan kami berdua sambil meniup plastik berisi pentol bakso yang masih panas)

“Itu.. yang rambutnya coklat kepirang-pirangan!”

“Gasss Yommm!” Timpal Jin.

Sekarang aku tahu, dia anak kelas IPA dua, dan aku mencoba minta bantuan si Bangsat agar mencari info tentang kakak tingkat ini.

                                                ***

Siang itu setelah Shalat Zuhur Aku, dan ketiga temanku (Jin, Bangsat dan Yuhul) lagi-lagi ingin makan Bakso Kuah Pakde.

“Masih ada uang kan?”. Tanyaku.

“Tinggal dua ribu nih” Jawab Jin.

“Tiga setengah” Timpal Bangsat.

“Pentol gak?”

“Gasekeeen.. Eh, tapi Minumnya gimana nanti?”

“Pinta ke UKS aja, aku bawa botol minum di tas” Yuhul ngomong dari belakang.

“Siaaap..Yom nanti giliran mu yang ambil air” Ucap Jin.

“Alaaaaaahhh Siap-Siap!”

(Berangkatlah kami menujuh motor pakde yang terparkir)

Pakde sedang tidak ada di motornya, aku langsung meracik seperti bisanya tapi tanpa bau badan yang menyengat dan tetek-tetek yang saling berdesak. “Sepi uy!” bilangku. Pakde sepertinya sedang istirahat atau Sedang Shalat. Motornya biasa di letakan begini saja sama Pakde.

Aku sudah selesai dengan pentol racikanku, aku duduk di atas trotoar jalan, di bawah pohon sawit. Plastik ini ku guncang agar bumbunya menyatuh. Jin, Yuhul dan Bangsat duduk bersebelahan denganku.

“Panas Euy!” Kataku.

“Cuaca, apa Kuah pentolnya?”

“Dua-duanya hul, eh tiga hul”

“Satu lagi apa?”

“Itu.. Bu Indah (Guru PPL dari Unib yang juga seorang Penyiar Radio)” Ku tunjuk pakek bibir.

“Asuuuu!.. Kurang ah!”

“Kurang apa hul?, Kurang panas?” Tanya Jin.

“Kurang Gede…wk wk wk”(Semua tertawa)

Setelah pembahasan tentang bu Indah, Bangsat bilang ke aku, Katanya nama Kating yang ku suka itu adalah Shasa Kurnia Sari, satu kelas dengan mbk Jeny. Mereka temanan dan sering ke mana-mana bareng. Katanya, Shasa ini anaknya pendiam dan belum punya pacar.

Jin menyikut ku dia melihat mbk-mbk yang sedang dibahas ini.

“Tuh, itu bukan..” Jin memonyongkan bibirnya.

“Iya Jin..aduh gimana ini?”

“Sudah, santai slow duduk aja di sini”

(Aku mulai panik, ingin bersembunyi tapi terlalu jauh, ingin pergi tapi aku ingin melihatnya)

“Bagaimana ini..” Tanya ku dalam hati.

(Dengan Kepala yang ku tundukan, aku meniup Bakso kuah dalam plastik ini)

Maafkan aku, bukannya aku pengecut disini, tapi mungkin kamu pernah mengalami hal yang sama sepertiku. Ketika kamu suka dengan seseorang, kamu tidak akan berani menatap matanya dan kamu berdoa agar waktu yang belum semestinya ini bertemu agar cepat berlalu. Jantungku, berdegup cepat, terpatah-patah, pikiranku ling-lung, ingin apa tidak tahu. Terus saja aku tiup ujung plastik bakso kuah ini.

Aku hanya bisa mendengar pelan suara obrolan dari telingaku. Sepertinya telingaku berdengung. Tetapi aku sedikit mendengar obrolan itu. Katanya:

“Hey dek, mana pakdenya”

“Di masjid mungkin mbak, mbak mau beli juga?”

“Iya.. “

“Letakkan saja uangnya di laci motor ini, nanti kami bilang ke Pakdenya itu uang dari mbak”

“serius?”

“Iya..”

“Okeh dehh..”

Aku meniup dan mengunyah pelan Bakso di mulutku. Jin menyikut lenganku. Aku berusaha mendirikan kepalaku. Oh Jin aku tidak bisa!. Jin menyikutku lagi. Aku dengan terpaksa menegakkan kepalaku. Menatap langit yang terhalang dahan dan dedaunan, lalu dengan menahan hati yang terus berdebar-debar, aku hentikan pandanganku menatap lurus. Tepat di hadapanku ada tiga Kakak tingkat cantik yang sedang meracik bakso kuahnya. Satu orang yang terus berbicara dan dua orang lagi sedang berfikir apa lagi yang akan dia masukannya ke dalam plastik yang dia pegangnya. Apa dua buah tahu, dengan empat bakso gorengan dan tiga bakso daging. Apa lima bakso daging dan tiga bakso goreng?. Apa semuanya Bakso daging dan sayur sawi. Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu apa yang dia sedang pikirkan.

Aku menatap dia yang sedang berfikir sekarang, Jin! Dia memang indah sekali dari sini. Aku kunyah berlahan sambil meniup pelan bakso yang ada di dalam mulut.

Di ambilnya Sayur Sawi seujung jarinya, lalu dia masukan ke dalam plastik, diraihnya sendok nasi berwarna merah untuk alat buat ngambil tiga bakso daging, dua tahu, dan dua bakso goreng. Lalu, tangannya meraih sendok cembung untuk menggayung kuah bakso, dan dimasukannya kuah itu ke dalam plastik miliknya. Setelah itu, dia ambil bawang goreng seujung jarinya, dan ditaburkannya ke dalam plastik. Terakhir, diikatnya plastik itu dengan erat.

Oh, tuhan kenapa waktu berjalan lambat saat ini. Aku menikmatinya, terimakasih tuhan, kamu telah memberikan kesempatan untukku memandang indahnya ciptaan mu.

Aku merabah bakso yang ada di plastik yang aku pegang. Aku mendapatkanya, lalu aku mengizinkan bakso itu masuk ke mulut.

Perempuan yang sedang perhatikan ini, menghentikan pergerakan tangannya yang sedang meracik dan melirikku. Tanpa ku kunyah dan ku tiup. Bakso ini aku telan masuk ke dalam tenggorokanku. Mataku berair, tenggorokkanku panas, ku paksa memanjang. Lalu, ku telan semua air liur didalamnya. Ku pejamkan mataku dan memalingkannya ke arah kanan bawah sembil bilang. “Aaaanjing!! Tenggorokankuuuu!!”

Aku duduk merangkul dengkul, menahan teriakan hingga mereka bertiga pamit untuk Kembali kekelas lagi.

Jin bertanya kepadaku, tentang kondisiku setelah melihat mbak yang aku suka secara dekat. Dia tarik pundakku. Aku menatap Jin dengan serius!

Jin bantu aku ambilkan air di UKS, tenggorokkanku panas setelah menelan Bakso pentol ini secara paksa. Aku tersedak bakso. Tolong akuuu” Aku bicara berlahan dengan mata yang berair. Jin langsung menujuh UKS yang tidak jauh dari kami duduk dan memberikan air yang ia bawa ke padaku setelahnya.

“Ah kau ini, Ada-ada saja!”

(Semua tertawa dengan lantangnya)

                                               

 

-Sekitar tahun 2011, di Parkiran motor Bakso Kuah Pakde


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tangan dan Mata yang Mencumbuku

aku ini siapa ?

Selamat datang lagi, ketidak pastian hidup