Tangan dan Mata yang Mencumbuku


Tangan dan Mata yang Mencumbuku
Kopi di warkop ini amat teramat manis, hingga lupa akan jam yang membatasi manusia di bumi. Aku menghabiskannya dengan beberapa tegukan di tenggorokan, jauh lebih dalam hingga kurasakan mengisi lambungku.
Nikmat yang aku rasakan hidup seperti ini. tanpa beban, lalu pulang dan beristirahat. Aku juga tidak lupa membayarnya dengan mbak-mbak yang berada di kasir, yang sejak tadi tersenyum kearahku.
                Sampai di rumah aku rebahkan tubuhku di atas kasur sembari membalas obrolan yang ada di whatsapp ku. Aku membuka line dan membaca sebuah puisi yang aku jadikan status di line tadi siang.
“Hingga suatu hari nanti, tanpa terasa berat lagi, tanpa perlu membenci, kita sudah sampai pada titik ternyata aku sudah tidak mencintainya lagi, yaitu hari ini, awal dan sudah aku mulai.”
Aku dapatkan kalimat itu dari sebuah novel karangan Boy Chandra tapi aku rangkai dengan menambahkan beberapa kalimatku sendiri.
Entah kenapa sejak malam Gala Premier itu, aku mulai merasakan aku sudah tidak mencintainya lagi. Perasaanku hambar seperti teh yang kuseduh pagi tadi dengan gula setengah sendok didalamnya.
Terasa dingin,  mata kita saling bertemu. Cukup lama. Dan beberapa kali itu terjadi. Seingatku dua atau tiga kali dia menatapku dengan pandangan yang hikmat nan dalam. Entah apa maksud dari tatapan itu, yang jelas aku tidak akan tergoda walau pasti akan selalu aku rindu. Mata itu seakan ingin menenggelamkanku jauh lebih dalam. Bola mata itu seakan ingin memangsaku dalam amarah, seakan membenakanku ke dalam penyesalan. Aku bingung sebenarnya.
Tapi dengan perasaan yang aku rasakan kali ini membuat aku berani menatapnya dengan hikmat. Aku mepertahankan posisi daguku yang sejajar dengan bibirnya dan mempertahankan mataku tetap menatap lurus mencoba membalas. Tanpa ingin melirik benda-benda yang ada disekelilingku.
Mataku sedikit ku sendukan tapi tidak mengurangi tajam dari matanya. Aku menarik pipiku hingga membulat dan bibirku melengkung, dengan ujung sisi dari bibirku tertarik ke atas. Yah aku tersenyum dengan hikmat dan menarik nafasku lebih dalam. Lalu ku hembuskan seirama dengan darah yang mengalir di nadiku. Jujur aku hilang rasa, meski pikiranku entah kemana perginya untuk mencari suatu jawaban.
Dia tetap mempertahankan tatapan itu. Jarak aku dengan dia berkisar, mungkin dua jengkalan. Jika aku hitung dengan jengkal jariku. Sekarang dia membalas senyum ku. Persis seperti aku lakukan. Entah apa maksud dari semua ini aku juga ragu.
Empat puluh lima detik, mungkin jika aku hitung dengan stopwatch atau barangkali lebih. Karena aku tidak ingin menghitungnya.  Aku perkirakan segitu, jika kalian ingin tahu.
Itu tatapan pertamanya ketika aku dan dia berfoto bersama untuk dokumentasi anak magang dari suatu komunitas film. Malam itu ada acara semacam Gala Premier Film yang ada di kotaku.
Awalnya aku memang tidak berniat untuk berfoto bersama, aku alihkan semua pikiranku tentang dia. Aku membuka obrolan dengan Crew Film lainnya. Namanya Nana, dia berjilbab, cantik, kecil, cute dan ramah. Jika aku deskripsikan postur badannya. Pundakku setara dengan hidungnya. Lalu aku mengajak Nana untuk berbicara dengan tema apapun yang ada di dalam isi kepalaku. Aku ingin cerita sedikit dan mengulas suatu kejadian antara aku, Nana, dan Vita.
Dulu ketika aku masih syuting beberapa Scene di Film ini, aku dan crew minum kopi di teras Rumah Produksi, kebetulan Vita tidak ada saat itu. Nana menawarkanku Kopi hitam, dengan niat untuk lebih fokus dalam membaca naskah. Jelas aku selalu membawa naskah itu kemana aku pergi sembari aku duduk, sembari aku membacanya.
Nana menawarkan aku Kopi.
“El, ngopi nggak ?”.tanya Nana.
“Wah kalo kamu yang buat sih aku mau, gulanya setengah sendok, kopinya 4 sendok yah, trus bawah juga garam.” Pintaku.
“Duhh, nggak Pahit El ? beneran nih ?, terus garam buat apa pula?.” Tanya Nana heran.
“Nggaklah, aku serius.” Aku mencoba meyakinkan.
“Terus garamnya buat apa” Tanya dia penasaran.
“Udah bawa sini aja, ada kan  ?.” aku menjawab dengan nada santai.
Beberapa saat kemudian Nana keluar dari ruangan studio membawa dua gelas kopi dan sekantong garam dapur.
“Ini buat abang robi, ini buat El. Nih El garamnya juga.” Tegas Nana kepadaku. Kebetulan abang Robi sudah lama duduk sebelum aku datang. Sembari menghisap sebatang rokok yang hampir habis menjadi abu.
“Na, sini deh”. Panggil aku yang duduk di seberang dia.
“Duduk sebelahku, soalnya mau minum kopi nih. Sembari menarik kursi dan memposisikanya tepat di sebelah kursiku.
“Lah, ribet amat sih. Nana gerutu lalu pindah.
“Nah gitu dong, kamu disini aja yah duduk disebalahku, soalnya kalo kamu jauh nanti kopinya, jadi pahit. Kan kamu yang membuat kopi ini manis.” Aku merayunya.
“Yahhh yahhhh kena gombal dahh.” Dia tertawa sedikit mengkerutkan dahinya.
“Lah ini garam  buat apa ?.” tanya Nana Lagi.
“Buat abang Robi.” Jawabku sambil menatap bang Robi.
“Lah buat apaan ?.” Tanya bang Robi kaget.
“Buat nambahin rasa di hidup mu bang hehe. Habis kalo nggak pahit, sih kan asin yah bang... itukan  pengalaman yang abang rasain di Bumi ini. Aku tertawa, semua tertawa.
Au ah. Jawab ketus abang Robi.
Abng Robi adalah Cameraman di Rumah Produksi ini. intinya aku sering mengganggu Nana sekedar menggodanya di lokasi kerja. Ini jelas membuat Vita cemburu pada akhirnya. Dan aku juga pernah tertangkap kamera aku sedang ngobrol dengan Nana ketika breafing. Padahal aku bilang sama Vita sebelumnya kalo aku nggak pernah ngobrol dengan Nana kalo sedang brefing itu dulu, saat aku masih berpacaran dengannya Dan jelas membuat Vita nambah cemburu.
Itulah kenapa aku membuka obrolan dengan Nana pada saat malam Gala Premier, berharap Vita cemburu lagi malam ini.
Jelas pancinganku ditariknya, Vita merasa diabaikan olehku, mulai gelisah. Aku melihatnya sangat jelas dari membaca gerak tubuh Vita, bahwa dia tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Ditambah lagi dengan aku meminta anak magang untuk mengambil beberapa petik foto antara aku dan Nana untuk dokumentasi acara.
Vita mulai berdiri dari kursi tempat dia duduk dan mengarah ke arah aku dan crew yang berdiri dari tadi bersamaku.
“Foto yuk.” Vita mengajaku.
Jelas aku kaget aku hanya diam dan mengikutinya. Beberapa kali aku dan dia berpose aku dekatkan lagi pundakku dengan pundaknya hingga kami bersentuhan. Dengan pose ntahlah aku juga bingung, aku mengikuti suasana nya kali ini. Jelas hasil dari Jepretan foto itu membuat orang orang menganggap bahwa kami ini masih tetap pacaran. Atau mungkin hanya perasaan aku saja “Au Ahhhh.”
Kemudian setelah kami melakukan sesi foto, kami bergabung didalam crew yang lagi duduk beristirahat tepat di lobi bioskop. Banyak mereka yang berlalu-lalang melewati kami. Vita dengan nyaman kali ini mendekat kearahku dan berusaha menggodaku dengan menumburkan bahunya. Seketika aku menatap dia lagi dan kembali terulang. Tatapan itu hadir lagi. Tajam dan penuh makna di dalamnya.
Aku hanya diam dan menatapnya tersenyum lagi, persis seperti yang tadi aku lakukan kepadanya. Kali ini lebih hikmat sebab, aku merasakan sedikit aneh melihatnya seolah matanya itu berbicara dengan hatiku melalui mataku yang terhipnotis olehnya. Aku merasakan tatapan kedua ini seperti tatapan kalo dia masih memiliki rasa denganku. Atau aku hanya terlalu pede dengan keyakinanku. Mungkin. Setidaknya memuji diri sendiri itu gratis.
Kebetulan bang Ian yaitu sutradara dari film yang aku perankan ini lewat didepan kami. Aku mengajak dia berfoto bersama. Aku rangkul mereka berdua. Jelas aku berada di tengah tengah mereka berdua. Niat akupun tidak jahat, tidak mecari kesempatan. Yang jelas aku rangkul Vita. Aku kaget. Dia melingkari tanganya di pinggangku dengan nyaman. Yah jelas itu suatu tanda sebuah rasa. Namun jelas bagiku, aku sudah tidak mencintainya lagi. Sejak malam itu.
                Setelah acara usai, Aku berfoto dengan seluruh Crew dan Telent Film. Aku tepat berdiri di sebelah kanan Vita, dia melingkarkan lagi tanganya di pinggangku lagi tanpa dosa. Lalu sebuah cubitan kecil mencumbu perut sampingku bagian kanan, satu jengkal diatas pinggangku. Masih bisa aku rasakan sampai saat ini cumbuan dari jemari itu.
Aku kembali meliriknya. Spontan. Aku kaget, berusaha menahan perasaan gamang di dalam hatiku. Apa ini ?, sebuah tanda kah ?, atau dia benar-benar masih menyimpannya. Sisa rasa itu. Mata kami bertemu kembali membuat aku berdebar hilang akal dan menahan sebuah pelukan hangat, yang bergejolak menentang kesadaranku.
Mungkin jika aku memiliki kekuatan untuk menghilangkan sejenak keramaian diruangan ini. Pasti akan aku lakukan. Aku hilangkan semuanya dan menyisahkan Vita. Lalu hening, dan kupeluk tubuhnya hangat, dengan penuh rasa kerinduan.
Sudahlah, Sayangnya aku tidak memiliki kekuatan itu. Aku hanya berimajinasi saja.  Namun, Setidaknya imajinasiku telah memeluknya pada malam itu.
Yang jelas malam ini aku umumkan pada secangkir Kopi yang mulai dingin, bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi. Dan teruntuk imajinasiku yang terkutuk, yang berusaha menjelma menjadi  kalimat penyesalan, yang sempat hadir dan mampir dalam sebuah cumbu jemari tangannya, aku anggap itu sebuah Rindu saja. Tidak lebih dan tidak pula kurang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

aku ini siapa ?

Diantara Kata, Kau dan Aku

Apa sih yang biasa pria lakukan jika ia sedang jatuh cinta ?