Selamat datang lagi, ketidak pastian hidup
Selamat datang lagi, ketidak pastian
hidup
26 maret 2019
Aku
yang dua puluh empat jam berfikir keras untuk menentukan arah tujuan dan
pilihan, oh Tuhan, kenapa selalu ada sebuah pilihan untuk ku ambil. Jujur saja
aku tidak mampu untuk memilih, aku hanya ingin mengikuti bukan untuk memilih.
Rencana,
ide dan pilihan terus berdatangan, dan sekarang aku sudah tiba di jogja menggunakan
kereta api sebagai transportrasi untuk bisa sampai disini, harga tiket yang
kudapat terbilang murah yaitu Rp. 85.000 saja, aku berangkat dari stasiun kediri
diantar oleh Julian temen kos ku saat di pare, dia asli tuban aku biasanya
panggil dia dengan sebutan tuban-man
atau anak bupati tuban. Baru saja seminggu berkenalan dengannya, tapi terasa
sangat dekat. Watak yang kocak selalu berbicara tampah jeda, leher yang
selalu di patahkan nya dan selalu berfikir praktis. Julian/tuban-man/anak bupati
tuban ini orangnya baik hingga dia rela mengidupi satu teman kosannya mulai
dari makan, rokok, dan membayar kursus bahasa inggris, asal temannya tidak
selalu main game di teras TV kos-kosan, Irfan namanya.
Irfan
asli lombok timur tinggal di pare sudah enam bulan, semenjak seminggu di kosan
ini aku hanya melihat Irfan duduk di teras TV tempat biasanya anak-anak ngumpul
untuk bersantai, ngerokok, nonton bola dan main kartu UNO. Irfan selalu duduk
sambil memiringkan HP nya yang selalu stanby di casan. Akibat rutinitas yang
hanya ngegame saja, membuat bang Ian teman satu kamarnya pindah, karena tidak betah dengan tingkahnya, bukan
hanya itu saja, dia sering ngambil uang yang ada di meja kamar yang tergeletak untuk beli
rokok batangan di depan kos-an.
Dua hari Irfan uring-uringan di teras TV, dia hanya main game
Mobile legend saja sepanjang hari dengan jedauntuk ke kamar mandi, ngidupin rokok, dan untuk makan. Selebihnya waktu seharian itu hanya untuk ngegames.
Anak bupati tuban alias Julian ini awalnya menghampiri dan bercerita banyak dengan Irfan, aku ada di sana saat itu sedang menghafal vocab dan kalimat Inggris, Julian menghidupkan rokoknya, Irfan melihat dan meminta sebatang, dengan itu pertemanan telah terjalin.
Anak bupati tuban alias Julian ini awalnya menghampiri dan bercerita banyak dengan Irfan, aku ada di sana saat itu sedang menghafal vocab dan kalimat Inggris, Julian menghidupkan rokoknya, Irfan melihat dan meminta sebatang, dengan itu pertemanan telah terjalin.
Malam
telah larut, mereka masih ngobrol dan aku ingin tidur sebenarnya, canda dan humoris
Julian membuat suasana riang, datang pula pemuda asal sulawesi halim dengan
temannya doris, duduk menghampiri kami yang sedang bercakap-cakap di teras dengan suara yang
keras.
"Duduk sini bang" panggilku.. lima menit berselang Bang aziz
sebelah kamar Irfan membawa kartu UNO, dan dia mengajari kita semua untuk main
kartu.. Julian si anak bupati tuban dengan semangat antusiasme menyambut
tawaran tersebut. Dan malam menjadi panjang dengan turunnya hujan yang membawa
hawa dingin-sejuk.
Tak terasa jam di HP ku sudah pukul 3 pagi. Aku pamit untuk
tidur karena besok jam 8.30 ada Kelas pagi, takut over sleep kubilang. Julian dengan gerutukannya menghalangiku untuk
pulang lebih dulu sebab, dia sedari tadi selalu kalah dalam permainan kartu UNO
ini dengan posisi jongkok. Aku tak menghentikan langkahku, ku teruskan dan aku
hanya menolehkan kepala sembari berteriak,
"hari sudah pagi besok aku ada kelas,..
duluan semuaaa!"
Semenjak
malam itu kita sering ngumpul di teras TV. Aku mendapat kabar dari bang Aziz, bahwa ternyata Julian sudah satu kamar dengan Irfan, ternyata benar aku
lihat mereka duduk di depan kamar sambil ngopi, ku sapa mereka saat hendak
berangkat kelas pagi
"Eh bro sudah
satu kamar kalian?"
"Iyah bro, kasihan Irfan tidak punya tempat tinggal dan tidak
punya teman, jadi aku ajak dia sekamar aja denganku, Eh Fan, Besok dari pada
kamu main Game terus kamu ikut aku ke tempat kursus yah!” .Ngoceh Julian
dengan Irfan yang sedang duduk bersebelahan, "
Aku
hanya tertawa dan menggoweskan lagi pedal sepeda yang sempat terhenti. Setelah
banyak kejadian lucu di kosan, tepat tanggal 26 maret aku meninggalkan pare
diantar oleh Julian ke stasiun kediri. Sedih memang meninggalkan teman yang
baru ingin akrab. Tapi mesti gimana lagi. Aku harus melanjutkan perjalanan.
Jogja dengan senja, hari ini sangat mengagumkan, lembah yang terbelah oleh rel kereta dengan
langit yang jingga ke merah jambuan. Suara adzan masjid berkumandang, kereta Jayakarta
menurunkan kecepatan, kemudian berhenti, aku bersiap sedari tadi untuk turun
karena tujuan stasiun ku sudah sampai "Stasiun Lempuyangan Yogjakarta"
Aku keluar dari gerbong dengan ransel hitam di depan dan carrier yang berat di
belakang pundak. Berbarengan dengan segerombolan para pendaki yang hendak masuk
ke gerbong. Tertawa dan senang dengan sesama temannya.
Aku
sudah lebih dulu mengabari Usop untuk menjemputku di Stasiun, mungkin saja dia
sudah di pinggir jalan menungguku. Aku bergegas melangkah dan keluar,
sebelum itu ku ambil beberapa photo situasi stasiun sore ini.
Aku
sekarang sudah diluar stasiun, tapi Usop masih sulit terlihat, atau dia memang telat
menjemputku. Aku menuju warung di seberang jalan untuk membali minuman dingin,
perut ku terasa perih terisi angin seluruhnya, sebab aku dadi tadi belum makan
dikarenakan takut telat di tinggal kereta.
Duduk
diwarung menikmati kopi goodday dingin membuat kerongkonganku terasa damai
dengan gerahnya badan yang lengket. Jam sudah menunjukan pukul 18.07, tiba tiba
hp ku bergetar, “My Mom” tertulis di layer hp yang menyalah memaksa untuk ku
angkat. Aku berusaha merapikan suara agar tidak terdengar kecapeaan.
Ibuku
selalu khawatir jika aku batuk, bersin, saat telponan. menurutku berlebihan saja, tapi jika dipikir ya.. mau bagaimana lagi. Dia adalah ibuku.
Lima
menit durasi telephone telah berlalu, ibu menanyakan ku sedang dimana, sedang
apa dan sudah makan atau belum, semua kujawab dengan jawaban yang paling
terbaik pastinya.
Selang
beberapa menit Usop menyapa dari belakang punggung, aku terkejut dan mulai
berusaha mengakhiri percakapan dengan ibu. Usop duduk di seberang meja, aku
berpamitan dengan ibuku di telephone, dan pada akhirnya aku mengangkat barangku
dan membayar minuman yang baru setengah ku teguk.

Komentar
Posting Komentar