Dibalik Jas Hujan, Dan Pinggiran Tokoh Ole-Oleh






Dibalik Jas Hujan, Dan Pinggiran Tokoh Oleh-Oleh 

Kala hujan di daerah pegunungan, sehabis pulang kondangan dan kami mulai menyusuri jalan-jalan yang lenggang. Segerombolan motor plat BD seri Kota, diguyur hujan dengan hebatnya, lalu berhenti dan berteduh di pinggiran pertokoan yang menjual oleh-oleh dan jas hujan, untunglah tadi ban motorku baru sudah ku ganti, jadi tidak khawatir lagi untuk pecah,  sebab takan ku beri jatah dua kali untuk ia pecah lagi.
Cukup mahal bagi anak mahasiswa semester lima sepertiku, yaitu berkisar seratus tujuh puluh lima ribu rupiah, harga satu set, ban luar dan dalam yang baru.
Kira tampak bersalah, terlihat dari rawut wajahnya yang hanya bisa diam sesekali mencuri pandanganku dari sepion kanan motor. Dia tampak bersalah, karena Kiralah yang sejak kemarin memaksaku ingin ikut dalam rombongan ini. Katanya "Kapan lagi bisa jalan jauh bareng mereka kan Yom, aku benar-benar ingin jalan-jalan.  Udarahnya sejuk pasti..  Hmmm..  Yah, yah, yah Yom’". Ajakanya ini seperti anak yang sedang bergumam, membulatkan pipinya sembari mengutarakan keinginannya untuk beli suatu mainan.
Setelah beberapa kali dia mengajakku, aku meng-iyakan permintaannya tersebut. Spontan dia senang dan tertawa lepas dengan tawa khasnya persis seperti tertawanya Spongebob squarepants,  persis kekank-kanakan sekali jika aku ingat. Ekspresi itu sering kali dia lakukan setiap kemauannya dikabulkan.

*Pada saat berteduh dipertokohan oleh-oleh*

Kami bergerombol membawa motor secara berpasang pasangan,  ada satu motor yang sepasang laki-laki. Dia adalah Dio dan Angga. Badan mereka basah. Menggigil sesekali. Sama sepertiku.
Jari-jari tanganku mengeriput, Kami melesat membawa motor menembus hujan dijalanan yang sepi, sebelum ada arahan dari bang Bimbim untuk berhenti dan menepi.
Mbk Laya, salah satu rombongan berinisiatif mengajak gadis-gadis yang sudah setengah bajunya basah ini membeli jas hujan pelastik warna-warni yang nantinya untuk membungkus badan mereka agar tidak basah. Juga jelas niatan keduanya sekedar untuk foto selfie dan update ke sosial media.
"Yom, Yom, Yom..  Minta uang". Pinta Kira sembari menusuk-nusuk jari telunjuknya ke dadaku.
"Buat apa?". Tanyaku, sembari membuka jaket yang basah.
"Itu itu.., mau juga". Kira merengek pelan, menunduk dan sesekali melirik Fifi.
"Aku juga ada mantel". Ku buka jok motor scoppyku.
"Mana-Mana-Manaaaaaa?". Dia bersemangat pun penasaran.
"Ini..,".Ku buka juba mantel legendaris berwarna biru tua, yang muat untuk digunakan dua orang sekaligus. Tapi yah memang, penumpangnya hanya bisa melihat bahu seseorang yang ada di depannya saja, tidak memiliki lubang kepala untuk melihat keluar.
"Hmm..". Kira menghelu dadanya, dan berdiri di sampingku membalikan badannya dariku. Kira terlihat kecewa.
"Yaudah tinggal beli aja sana".Ucapku.
Kira menggelengkan kepalanya dan berkata ‘Aku tidak punya uang Yom, tadi aku masukan ke amplop kondangan semua uangnya". Ucapnya pelan-berbisik.
"Tapi aku mau itu...". Kira menunjuk Fifi, Efi, Eci, indah, Laya dan mbk Ejak  yang sedang memilih jas hujan pelastik warna-warni dan lanjut memilih makanan untuk dibeli sebagai oleh-oleh dari daerah sini.
Kira membulatkan pipinya dan menahan bibir sebagai poros utamanya dan itu benar-benar menyebalkan dan sekaligus membuat hatiku riyuh melihatnya yang ingin sama seperti teman-teman yang lain.
Murah sih,  tapi uang di sakuku hanya tinggal beberapa lembar lagi, aku tahu ia ingin juga beli oleh-oleh sama seperti yang lain. Uang di ATMku pun sudah habis, dan benar-benar tidak cukup untuk ditarik keluar, belum lagi tadi sebelum kekondangan ku habiskan untuk makan jajanan di warung depan masjid, yang menjadi tempat beristirahat sambil menunggu yang lain mengganti pakaian pesta. Karena lumayan jauh perjalanan kami, butuh waktu satu jam lebih menyusuru hutan dan jurang di setiap sisinya.
‘Nih..’ Ku berikan uang lima puluh ribu ke Kira, dan sepuluh ribu ku sisahkan di saku celana untuk berjaga-jaga jika bensin ini habis di tengah perjalanan menuju rumah.

Lagi-lagi,  ekspresi bahagia dengan tawanya itu itu kembali hadir. ‘"HA.. HA.. HA. Makasih pacar yang baik hati" aku tertawa, Kira pun mengikutinya dengan baik dan lebih lepas dariku.
Itulah Kira yang membuatku rindu dengan semua tingkahnya jika bersamaku. Dan aku tahu itu tidak akan terulang kembali,  biarkan aku simpan semua kenangan tentang mu itu.
Dan sekarang,  pasti kamu masih mengunakan jurus mu itu kan?, Tapi tidak kepadaku. Melainkan, kepada pacar mu yang baru. Semoga dia lebih baik dariku yah. Dan semoga, kamu merasa jauh lebih bahagia dengannya, yang selalu menuruti semua kemauanmu Kira. (30 September 2018)  

 Dan peristiwa itu tanggal (26 Februari 2017)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

aku ini siapa ?

Diantara Kata, Kau dan Aku

Apa sih yang biasa pria lakukan jika ia sedang jatuh cinta ?