Aku akan tidur lebih awal
Badanku lelah, seharian dipaksa untuk
bekerja, padahal upah yangku didapat tidak banyak. Namun, tuntutan dan tekanan
nya saja yang banyak, membuat otak bekerja keras mencari sumber informasi,
untuk selanjutnya jariku yang mengetik kata demi kata hingga tersusun kalimat
dan menjadi paragraf yang kompleks. Belum tentu memiliki makna dan arti, mereka
yang membacanya takkan paham. Apa yang aku rasakan dan apa yang mereka tangkap,
jika aku asal.
Maka
dari itu aku diajarkan untuk tetap mengasah cara menulisku dengan kalimat yang
sederhana, tepat, dan bermakna. Tanpa ada pemborosan kata. Kan kata pak ustad
di masjid dekat kosanku kalo kita boros tidak akan kaya, maka dari itu harus ditabung.
Hubungannya dengan pemborosan kata dan tabungan apa?. Ya tentu ada, jika kita
menabung, kita akan hemat. Sedangkan pemborosan kata itu tidak baik. Jadi,
hemat itu belum tentu baik. Namun jika boros, sudah tentu baik. Jika kamu
borosnya untuk anak yatim juga piatu. Benar bukan ?.
Aku sudah bekerja disalah satu media online
dikotaku, sebelum gelar sajana ku dapatkan. Aku selalu suka mencoba lebih awal
setiap apa yang aku inginkan dan membuatku penasaran. Dulu seperti aku masih
kecil aku ingin masuk taman kanak-kanak karena penasaran dan ingin bermain
lebih lama, atau aku ingin masuk kuliah lebih awal karena aku penasaran dengan
suasana kampus meski aku sempat gagal dalam memilih universitas, belum lagi
ketika aku ingin lebih awal mengerjakan skripsi dibangku kuliahan. Aku ingin
sekali lebih cepat memulainya. Dan sekarang, aku lebih awal bekerja agar ingin
tahu bagaimana bekerja di kantoran.
Jika aku katakan mandiri, takutnya nanti takut
terlalu percaya diri. Jika aku katakan tidak sabaran, nanti aku juga takut
dibilang terlalu berlebihan. Kan serba salah sebenarnya. Intinya aku ingin
bebas melakukan apa yang aku inginkan. Itu saja.
Namun yang jelas, salah satu alasan mengapa
aku ingin bekerja lebih awal, itu karena aku ingin membuang semua pikiran ku
tentang dia dan kebiasaan aku dengan dia yang masih menghantuiku. Aku masih
belum bisa melupakan kebiasaan antara aku dan Kira, aku juga belum bisa
melupakan moment-moment yang dulu pernah tercipta. Mungkin kata orang manusia
itu sifatnya pelupa, tapi tidak bagiku. Aku memiliki sifat yang selalu mengingat
suatu kejadian atau pristiwa. Jadi aku sekarang hanya bisa menulis untuk sebuah
kenangan. Mencoba manjadikan suatu cerita yang mungkin kelak akan ku baca
kembali dengan suasana yang beda. Mungkin. Inilah kisah remajaku. Jika kamu
tidak suka, ya silakan. Aku tidak akan memaksa melanjutkan kamu membacanya. Hanya
cukup menutupnya dan melupakan semua cerita yang sudah sempat kamu baca sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar