Terimakasih, aku senang dulu aku pernah memelukmu.
“Kamu yakin pelangi satu warna itu ada
?”
Aku
pernah bertanya kepadanya seperti itu. dia bertanya kembali kepadaku.
“Jika aku putar kembali pertanyaan ini
kepadamu, apa yang kamu jawab?”. Tanya Kira
“Tentu
ada, sekarang pun aku masih melihatnya, itu...”. Jawabku.
“Itu
apa?”. Tanya dia bingung.
“Senyummu.”
ku tunjuk bibirnya dengan telunjukku.
Dia
tertawa, pipinya membulat dan memerah. Persis seperti tomat yang ibuku beli di
pasar pagi tadi.
Indah
bukan jika aku ceritakan kisah cinta ku dengan Kira. Jujur, tapi mengenangnya
membuat tulang-tulangku terasa silu hampir patah, remuk karna rindu masih ada
dalam ingatan.
Entah
kenapa pagi ini seusai aku bangun pagi, bersemedi dalam kamar mandi dan kembali
lagi tidur, sembari mendengarkan lagu koploan album dari NDX A.K.A yang
berjudul “bojoku digondol bojone”.
Aku
kembali bangun. Dan duduk dipinggir kasur menatap leptopku yang masih hidup.
Jika
aku boleh jujur lagi, hingga saat ini aku masih berusaha mencari kabarnya. Aku
selalu menunggu history instagramnya, aku masih penasaran apa yang ia lakukan
hari ini, apa rencananya esok, dan masih adakah fotoku di kamarnya.
Apa Kira sama denganku?. Yang selalu rindu,
namun tak berani bertemu. Bahkan mengungkapkan lewat sosmed pun tak mampu?.tanyaku
dalam hati.
Jam
dindingku menunjukan pukul sembilan lewat dua puluh tiga Waktu Indonesia bagian
Barat.
Cahaya
matahari menembus pentilasi kamar berusaha menggangguku. Rencananya aku ingin
kembali ke dalam mimpi. Namun aku tidak bisa menolak, ingatan tentang dia kembali
hadir. Bagaimana cara Kira tersenyum, bagaimana Kira tertawa, bagaimana Kira menggengam selalu tanganku, hingga rasa pelukannya yang tak bisa aku lupa.
Cara
merangkul yang tiba-tiba, yang terkadang membuat aku terkejut. Atau gerak tubuhnya yang
mewakili rasa nyaman saat dia peluk dan rebahkan pipinya di bahu kiriku, seakan
tak mau ia pindahkan ketempat lain. Hingga aku berdabar dan Kira hanya tertawa. Kira merenggangkan pelukan dan muka nya tepat berda di depanku.
Mata
kita saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat, mungkin empat jari tanganku membatasi aku dan dia. Kira bertanya kepadaku “Kenapa yom?, aku pinjam kamu sebentar yah”. Dengan mata yang
berkaca-kaca.
Aku
tau kamu nyaman saat itu.
Kemudian Kira menahan tawa dan kembali memelukku. Pelukannya sangat erat dan ia selalu
meng-eratkannya, seakan tak mau melepaskanku. Itulah Kira, selalu membuat
dirinya nyaman didekatku, selalu memposisikan aku sebagai laki-laki yang
paling beruntung di dunia karena telah memiliki dia.
HA..HA..HA..HA..HA..HA.
Aku tertawa.
Sekarang
aku sedang tertawa mengingatnya, sembari aku ketik tulisan ini. terimakasih Kira, aku senang bisa memelukmu dulu.
kini, aku hanya bisa mengenang cerita itu.
Tanpa bisa aku ulang. Tapi hangat pelukmu, masih dapat aku rasakan
sekarang.
Terimakasih.

Komentar
Posting Komentar