Masih ada, lima ratus tujuh puluh empat ribu milyar manusia
Aku sudah
sembuh dari luka lama. Jikaku ingat dulu, aku selalu dihantui dengan rasa penyesalan, melukai diri melalui psikis yang semakin hari membuat diri merasa bersalah.
Hari
dimana aku selalu berfikir sempit, suram dan putus asa dengan
semua hal di sekelilingku, juga bumi. Perjalanan sudah ku tempuh, untuk sekedar menghindar dan melupakan ingatan. tapi masih saja gagal, dan tidak bisa tanggal.
Motor, ku pacu di sepanjang jalanan bengkulu, pohon yang awalnya setinggi dengkul, kini telah meninggi, sulit dijangkau pucuknya. Ahhhhhh... Aku sudah muak dengan semua sudut di kota ini.
Hari kian
hari, hanya bersandiwara menutupi rasa kelut dalam hati, canda guraw dan
tawa setiap kumpul dengan teman di angkringan, memang obat paling ampuh. Sekedar kopi memang, tapi semua permasalahan lupa saat itu juga.
Namun, ketika menuju perjalanan pulang, dengan music yang mellow di
play list Mp3, membuat luka terasa kembali lagi. Sial!Sial! rasa ingin berteriak ke para penjaga rumah kejaksaan di jalan Rs lama.
Sesampainya di kamar, aku malah susah untuk tidur dan mesti mengenang semua kesalahan, yang
berusaha ingin aku rubah tanpa persetujuan logika.
Langit-langit kamar dan suara kipas yang menempel di dinding tepat di
atas kepala, seakan ia berbisik memaki "MATI SAJA KAU BODOH! BINASALAH KAU!”.
Hari kian
hari, lambat laun, aku memahami bahwa semua kesalahan pasti akan dihadapi oleh setiap manusia, dan bukan hanya aku saja. Masih banyak diluar sana yang
lebih terluka tentang sesuatu hal. Mungkin saja, aku hanya sebagian kecil dari lima
ratus tujuh puluh empat ribu milyar manusia yang ada di bumi ini.
Hal
yang terpenting adalah masih ada banyak kotak misteri yang belum terbuka di hari esok bukan. Dan sebaiknya, kita harus terus membuka kotak-kotak itu
satu persatu selagi kita masih hidup, tahu sampai kapan.

ceeeee keyen
BalasHapus