PERJALANAN KU PART I
Suatu perjalanan dimulai pada bulan Oktober
Part I (Sebuah rencana)
Rencana ini memang sedikit gila. Aku
sebenarnya sedang berada pada suasana yang membosankan dan kacau, seperti aku
berada di ruangan sempit yang pengap, dengan nafas yang tersenga-senga dan hanya
melihat bias cahaya yang keluar dari celah-celah pintu.
Mungkin seperti itulah
penggambarannya. Kau tahu lah. bahwa kota kelahiranku itu memang tergolong kecil. Sehingga
ruang lingkup yang aku miliki itu hanya sekitaran itu-itu saja, sungguh
membosankan. Orang-orang yang aku temui yah itu itu saja. Yah sekali lagi aku harus
bilang itu sangat membosankan, namun itu tidak termasuk keluargaku dan
teman-temanku yang selalu ada kapanpun. Karena dengan adanya mereka aku merasa
terhibur di ruang lingkup yang membosankan itu.
Suatu hari aku menghabiskan waktu di
kamarku untuk hibernasi selama 144 jam, aku seperti ikan asin yang tergeletak
diatas kasur tanpa tahu apa yang akan di lakukan untuk kehidupan
esok.
Gadget ditanganku tak pernah terlepas dari genggaman, kantung mata
yang bertambah dan kian menghitam. Rutinitasku hanya disekitaran kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Selain memperhatikan sosial
media, rutinitas mereka yang bahagia, makan, dan buang air kecil/besar. Hanya
itu. Selama 6 hari berturut-turut.
Katika hari ke-7 dalam suatu
ketidakpastian hidup, aku seperti berada di lubang cacing yang hampa diantara
planet-planet di alam semesta. Aku kira aku hanya perlu beranjak dari
persembunyian kecil yang nyaman ini dalam beberapa menit saja dan melihat-lihat
kenyataan yang terlalu banyak pergesekan diantaranya.
Akhirnya aku memutuskan
untuk keluar dan berjalan-jalan sebentar. Jam dinding kamar ku tepat berada di
angka 17 dan 51 yang menandakan bahwa magrib akan segera tiba.
Aku mencari kunci motor supra kesayanganku dan pemerintah, ternyata
kuncinya terpajang indah di atas dinding belakang televisi yang masih menyalah.
Setelah aku meraihnya ada seseorang yang bicara dari ruang tamu dengan suara
berat,
"Hoii.. mau kemana ?". Aku langsung berbalik badan dan
menjawab pertanyaannya
"Mau keluar sebentar, cari angin".
"Hati-hati... "
"Iyah".
(itu adalah ayahku).
Aku melangkah keluar dari teras samping, cahaya matahari sudah hampir
ranum. Aku keluarkan motor dari garasi dan menghidupkannya. Setelah beberapa
menit, aku langsung pergi sembari memikirkan kemana tujuan motor ini. Okeh, yang
pertama yang aku tujuh adalah warung, dan yang kedua, adalah.... aku belum tahu itu.
Sehabis dari warung, motorku pacu lagi ke jalanan pantai panjang yang ramai, aku melihat raut-raut wajah manusia lain, penuh tawa saat gulungan ombak
membasahi pakaian mereka.
Ku paksa motorku berbelok keluar dari jalan raya, kini ban motor menebas semak-semak ilalang dan pasir pantai, dimana nanti akan menuju suatu tempat terbaik untuk bersembunyi dari dunia yang berisik. Kemudian akan aku habiskan waktuku disana.
Bagiku, tempat persembunyian ini adalah tempat yang menenangkan, bagi diri sendiri, bagi kopi yang ku hirup, dan beberapa puntung rokok yang terus menyala, dengan view matahari yang berlahan meredup di lepas pantai bagian barat kota.
Aku hanyut dalam suasana hening dengan lagu melow
di headset yang masih menyala se-dari tadi aku menghidupkannya.
"Jika aku hanya disini dengan semua kenangan yang masih tersimpan rapi, yang
membuatku patah, luka dan sesak. Pasti aku tidak akan bisa sembuh dengan mudah.
Jika aku berlumur kesedian dan sesal yang mendalam, bisa jadi aku akan menjadi gila.
Dan jika aku berada di waktu yang sekarang, namun semua pikiranku masih berada
dimasa lalu, untuk apa aku menjalani kehidupan esok.
Jika aku pergi untuk
sementara waktu, dan meninggalkan Zona nyaman penuh kenangan, dan mulai bertualang
keberbagai tempat, berinteraksi dengan orang-orang yang baru, berada di daerah
yang baru, suasana yang baru, dan melihat senja ditempat yang baru... mungkin, akan lebih seru begitu.
Aku bisa sedikit merubah hari esok, memiliki rencana, untuk menghilangkan semua rasa yang luka juga patah, menghilangkan dan menghambarkan rasa seiring jalannya waktu. Yahh, mungkin itu yang harus aku
lakukan, semoga saja bisa".
Akan ku coba
suasana yang baru, melakukan suatu perubahan untuk diri ku sendiri.
Aku harus pergi!
Setelah matahari tenggelam dalam lautan, langit semakin memekat dan angin
semakin kencang berusaha menembus jaket rajutku, aku beranjak dari bibir pantai dan
meneguk kopi terakhir yang tersisa, berjalan menuju parkiran motor.
Aku mengenahkan helm, dengan masih mendengarkan Music Play, sekarang lagunya dalah Anne-Marie 2002.
"Setelah keberangkatan sudah ku tentukan, aku
mulai memikirkan perencanaan yang lebih spesifiks lagi. "kemana, siapa, dengan apa, dan berapa"

Komentar
Posting Komentar