Aku dan 3 Gelas Kopiku
(Aku
terlalu mendramatisir)
Malam itu rinduku membludak.
Mendorong aku untuk menghubungimu, aku membuat status di sosial mediaku, semacam puisi dengan tema
(kopi yang menemaniku jika malam)
Tiga Gelas Kopi berukuran sedang, telah habis tanpaku sadari.
Tau kenapa.
aku hanya diam dan menatapnya hingga bibirku melengkung membentuk serupa huruf U beberapa detik saja.
hingga kembali normal.
Dan juga aku baru tuntas membaca kisah
romantis malam itu, ada sesuatu yang ingin keluar dalam tubuhku, sangat besar,
sangat berat, membuat seluruh tulangku nyiluh. Nyaris patah.
Aku yang linglung tanpa arah.
Entah secara kebetulan
atau kau sengaja ntahlah aku takpaham.
Kau menyukai status yang ku buat. Aku terkejut, sontak girang. Bercampur
bingung yang menghujaniku. Aku menghubungi temanku untuk menceritakan hal ini.
kebetulan dia sedang Online di akun
WhatsApp ku.
“Aku rindu, Benar-benar
rinduuuuu”.kataku dalam pesan singkat kepada temanku.maksudku kalimat itu untuk
vita bukan untuk dia.semoga dia paham. Pernyataanku dalam hati.
“
Vita ?”.tanya dia.
“
iya”. Jawabku
membalas percakapan itu. Syukurlah dia mengerti maksudku.
“Hubungi
dia, sampaikan rindumu. Jangan kau pendam sendiri!” jawabnya lagi.
“
Ah, kau bercanda dar.
Sekilas untuk memperjelas, malam itu teman chatinganku adalah dara, dia teman ku
semasa aku Sma kami sering ngumpul bareng dia, sampai sekarangpun tetap sama,
dia sedikit tomboy tanpa mengurangi feminim sebab dia seorang perempuan tulen.
Kami menyukainya. maksudku menyukainya Sebagai teman.
“Srius
yom, lakukanlah !”
dengan intonasi kalimat yang menekan. Aku merasakannya.
Aku kemudian mencari nama
vita di akun line ku, yah aku menemukannya. Selanjutnya aku membuka kalimat
percakapan dengan dia.
“Hoihoi”. Kalimat yang selalu menjadi kalimat
pembuka dalam suatu obrolan ku ke dia dulu waktu kami masih PDKT. Aku masi ingat sekali jam dinding
di kamarku menunjukan pukul 00.24 Waktu Indonesia bagian Barat.
Aku masi menunggu
balasannya, sebab jarak antara dia menyukai Statusku dengan aku membuka obrolan
dengannya berkisar 5-7 menit dan ku anggap itu timing yang pas untuk membuka obrolan. Dengan memikirkan harga
diriku sebagai mantan untuk sekedar
menanyakan kabarnya. Dan pada akhirnya melontarkan pernyataan bahwa sahnya aku
merindukanmu.
Tetap tidak di balas. Aku
berfikir keras dan menahan pikiran yang timbul dari berbagai sisi. Kenapa ? ada apa ? Kok begitu, aku salah ?
kenapa harus aku melakukannya ?.
Semua pertanyaan itu timbul di dalam kepalaku.
Pukul 00.35 aku melontarkan kalimat
ke-dua, berharap dia membacanya dan kami memulai obrolan malam itu.
“Hey,
bagaimana kabarmu vita ?”
tanyaku santai dalam kerisauan yang ada dengan ditemani rasa cemas dan bingung.
00.45
00.55
1.25
1.30.
Aku tak percaya akan
keadaan yang aku alami malam itu. Aku bingung sangat-sangat bingung, aku
menderita, aku bimbang, aku rindu, aku emosi, aku kecewa, aku galau!.
Semua pikiran negatif
yang ada menguasai kepalaku. Sungguh salah jika aku menghubunginya untuk
sekedar berkata “Aku merindukan mu” bodoh menurutku.
Sepintas ada kalimat berusaha memberi
kejelasan yang melewati pikiranku.
“
Ah, sudah yom mungkin dia sudah tidur”. Entah kenapa aku setuju dengan kalimat barusan, tanpa
aku tahu darimana datangnya.
Aku masih ingat, jarum jam
dinding dikamarku berhenti tepat di angka tiga lewat lima belas. Suhu di
kamarku dingin, terasa sangat menusuk jantungku bahkan hingga ke hati ku, membuatnya
membeku, mataku sulit ku pejamkan, meski nantinya aku tahu terbangun dengan mata
yang sembab. Sebab aku bangun jam 06.00 pagi disebabkan ibundo kos ku berteriak
menginginkan jiwa ku di kehidupan nyata (bangun dari tidur).
“Yoma yomaaa. Yomaaaa. Bangun!” Sontak aku membuka mata dengan keadaan sembab.
Reflek tanganku mencari hpku dan otakku spontan mencari nama Vita tanpa ia
meminta izin dari ku terlebih dahulu.
Tetap sama. Tidak ada balasan yang ku
dapatkan pagi itu hingga sekarang.
Aku hanya bisa
menyampaikan saran kepada diriku, terserah jika dia menerimanya atau tidak. Kan
diriku juga bagaian dari aku. Au ah !!, Jadi
terserahlah! yang penting akan aku sampaikan kalimat ini jangan dengarkan
baik baik, tapi bacalah dengan baik. Karena indra penglihatan yang dibutuhkan
bukan pendengaran hahaha.
“Biarkan dia merindukan
mu sendiri dan jangan pernah merasa, bahwa dia memikirkan mu”.
Sudah itu saja, aku sekarang ingin melanjutkan
kembali tulisan akhir kuliah ku, meskipun aku masih ingin menulis semua cerita
yang aku alami tapi, sabar lah, Trimakasih.
Komentar
Posting Komentar